Sektor pertanian domestik memegang peranan vital dalam pembangunan nasional. Peningkatan kualitas dan produktivitas pertanian menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas kedaulatan pangan, sosial dan ekonomi, serta konstelasi politik di Indonesia. Hal ini yang menjadi latar belakang diarahkannya sasaran pertama agenda riset nasional 2004-2009 pada bidang ketahanan pangan. Dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian tersebut, maka diperlukan strategi intensifikasi maupun ekstensifikasi. Mengingat, luasan areal lahan di Jawa semakin terbatas, sehingga langkah yang lebih tepat dilakukan adalah dengan metode intensifikasi. Salah satu unsur terpenting dalam intensifikasi pertanian adalah faktor pupuk dan pemupukan untuk meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanah. Pada saat ini, peningkatan kualitas kesehatan dan kesuburan tanah tersebut diarahkan ke aplikasi pupuk organik.
Kesiapan masyarakat untuk melakukan alih teknologi dari aplikasi pupuk kimia sintetik ke pupuk organik belum dapat terwujud dengan sempurna. Teknologi produksi dan aplikasi pupuk organik tersebut juga belum dikuasai sepenuhnya oleh masyarakat pedesaan. Selain itu, pemasaran pupuk organik lokal masih harus bersaing dengan pemasaran pupuk kimia sintetik dan pupuk organik buatan industri besar yang disubsidi pemerintah. Hal ini menyebabkan akselerasi progresifitas produksi dan aplikasi pupuk organik lokal masih lambat. Produksi pupuk organik lokal tersebut sebenarnya juga dapat menjadi alternatif perluasan lapangan pekerjaan di desa, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan.
Merespon fenomena di atas, Departemen Community Development Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Divisi Mahasiswa yang bekerja sama dengan Kelompok Perikanan dan Pertanian “Mina Sejahtera”, Plaosan, menyelenggarakan agenda Sarasehan Petani – Pemerintah – Mahasiswa (Sartatama) pada tanggal 15 Januari 2010. Kegiatan ini dimaksudkan agar terjalin hubungan dan komunikasi interaktif antara berbagai elemen penggerak pembangunan nasional, sehingga akan terwujud suatu kerja sama yang sinergis. Sarasehan tersebut lebih diarahkan pada perbincangan mengenai deseminasi teknologi pertanian tepat guna, khususnya teknologi pembuatan pupuk organik. Di samping itu, juga pembahasan tentang strategi pengembangan bisnis masyarakat.
Sartatama yang bertajuk “Inovasi Teknologi untuk Kesejahteraan Masyarakat“ ini, dibuka oleh Camat Minggir dan Lurah Sendang Rejo. Pada saat acara berlangsung diadakan pula pameran galeri foto dan produk-produk olahan limbah organik menjadi pupuk organik. Pameran galeri foto dan produk-produk pupuk organik tersebut ditujukan untuk menunjukkan inovasi dan usaha yang telah dilakukan masyarakat dalam mengembangkan pupuk organik, menyampaikan secara visual kreativitas masyarakat berbasis aplikasi teknologi tepat guna, mensosialisasikan aplikasi Bioaktivator Good Bacteria-1 (GB-1) untuk pembuatan pupuk organik, dan juga sebagai bahan diskusi dengan pemerintah pusat.
Sartatama ini diikuti oleh seluruh anggota kelompok pertanian dan perikanan se-dusun Plaosan, Sendang Rejo dan juga segenap elemen mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Adapun elemen mahasiswa UGM yang berpartisipasi aktif antara lain Kelompok Studi Fakultas Pertanian “Klinik Agro-mina Bahari” (KAB), Keluarga Mahasiswa Muslim Pertanian (KMMP), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim (KAMMI) UGM, dan Ikatan Mahasiswa Muslim Madani (IM3). Total peserta yang datang kurang lebih 100 orang.
Elemen petani, pemerintah, dan mahasiswa berupaya melakukan sinergisitas dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Acara Sartatama ini dimulai dengan pameran galeri foto dan produk-produk pupuk organik. Berikutnya, dilanjutkan dengan Sarasehan petani bersama Staf Ahli Kementerian Negara Riset dan Teknologi (MENEGRISTEK), ilmuwan dari Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), peneliti dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), serta mahasiswa UGM.
Masyarakat petani sangat antusias dalam menikmati sarasehan tersebut. Hal ini diindikasikan dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan masyarakat mengenai informasi teknologi serta kebijakan nasional yang disampaikan oleh Pemerintah Pusat tersebut. Pada akhir acara ini diberikan juga tanda kenang-kenangan dari MITI-Mahasiswa dan penyerahan bantuan tunai untuk penguatan modal usaha. Penguatan modal usaha tersebut rencananya akan dipergunakan untuk mendanai pembuatan alat pencacah sampah organik. Melalui Sartatama ini diharapkan dapat menambah pemahaman petani tentang teknologi dan dapat membantu meningkatkan harkat kesejahteraan masyarakat.
Berikut ringkasan dari Seminar Nasional Teknologi 2009 yang digelar di Univ. Brawijaya (kerjasama LSO Ristek EM UB dan MITI-Mahasiswa) pada tanggal 26 Desember 2009. Seminar bertemakan "Generasi Baru IPTEK Indonesia; Menuju Masyarakat Indonesia 2025 yang Cerdas, Kreatif, dan Inovatif" ini menghadirkan perwakilan dari ABG+ S (Akademisi, Businessman, Government + Student):
1.Dr. Warsito P. Taruno (staf khusus Menristek, penerima Bakrie Award bidang Teknologi, ketua MITI)
2.Dr. Edi Sukur (direktur Edwar Technology, Ketua Community DevelopmentMITI)
Berita foto: peserta tengah menyimak pemaparan dari para pembicara. Seminar nasional ini dihadiri oleh hampir 300 peserta dari lokal UB dan dari 53 kampus undangan MITI-Mahasiswa.
RISTEK VISION 2014 (by Dr. Warsito)
……………………
Bayangkan jurnal yang dihasilkan oleh Indonesia selama 10 tahun (1992-2002) adalah sebanyak 3.000-an jurnal dari 50.000-an jurnal. Diharapkan lulusan univ ke depan itu mereka siap untuk menerima lamaran kerja, bukan lulus kemudian berlomba-lomba melamar kerja.
Grand inovasi pemuda, pemenangnya tahun ini adalah dari UB. Mereka mengkoordinir basis produksi masyarakat yang membuat mie darirumput laut, mie ini jelas lebih sehat dari mie yang selama ini telah ada. Mereka melakukan pendampingan, pengemasan, pengawetan ,quality control dan pemasarannya. Ini adalah kerja yang sangat pas untuk lulusan S1. Target kita MITIM 100 inovasi dalam setahun ini. Program MITI – COMDEV akan dijadikan program nasional karena program yang sangat luar biasa.
Inovasi itu identik dengan produk baru, manfaat dan bisnis baru. Misalnya kita menemukan produk atau paten produk baru, ini belum inovasi tapi baru sebatas riset. Nah bgmn hasil riset ini bisa menjadi produkk inovasi? Kita harus menjadikannya menghasilkan profit dan secara ekonomi menghasilkan. Berbicara ttg riset, di PT kita sudah banyak belajar. Antara riset dan novasi ada jurang pemisah yang disebut lautan darwin atau lautan kemubaziran. Artinya kita melakkan banyak riset tapi belum tentu semua hasil riset tersebut bisa menjadi produk inovasi. Nah bgmn kita mjdkan riset itu sbg inovasi? Ini adalah tugas kementrian riset.
Inovasi itu identik sekali dengan produk, manfaat dan bisnis baru. Riset: know how. Tapi kalau inovasi: know value, artinya sebuah produk bisa dipakai, bisa memberi nilai tambah, dan orang berani mengeluarkan uang untuk produk tersebut.
Kementrian Riset dalam 5 tahun ini akan menyiapkan sebuah institusi yang :
1.Berkaitan dengan pengembangan teknologi
2.Pengembangan fungsi teknologi inkubasi (bgmn membuat hasil riset daapt melewati lautan darwin)
Program ini masuk dalam program 100 hari, dan pelaksanaan program ini sangat membutuhkan dukungan dari golongan mahasiswa.
Salah satu inovasi yang menjadi produk teknologi adalah tomografi 4 dimensi yang berkaitan dengan perubahan iklim, yang merupakan proyek di departemen energi di Amerika. Ini adalah proyek untuk mengembangkan energi baru, sistem untuk melakukan verifikasi proyek tersebut ada di Indonesia, yang dibuat oleh sarjana S1 lulusn UB.
Contoh lainnya adalah motor dengan bahan bakar hidrogen jadi bahan keluarannya dalah air yang bisa diminum. Produk ini mendapakan penghargaan. Kuncinya apa? Kita membangun rantai nilai, rantai nilai itu pengguna dan pemasok. Ini harus dibangun, jika rantai nilai ini tidak dibangun maka penelitian tidak akan berkembang. Jadi, kita harus mendekatkan teknologi pada kebutuhan pengguna (masyarakat).
Slogan pemerintah-ristek yang baru: SIAPA BILANG INDONESIA TIDAK BISA????
TALKSHOW SELANJUTNYA….
-With ABG + S (Akademisi, Businessman, Government + Student)
A. AKADEMISI (Dr. Luthfi Ja’far)
Kondisi PT kaitannya dengan tantangan PT di masa yang akan datang
1.Tuntuan kompetensi di dunia kerja
Tantangan ini bukan hanya bagi PT negeri tapi untuk semua PT.
2.Perubahan kurikulumà kurikulum berbasis kompetensi
Kurikulum yang ada di PT harusnya harus berkaitan dengan kompetensi yang dibutuhkan di dunia profesi.
3.Perubahan metode pembelajaran
Maka bagi anda mahasiswa yang melakukan praktek2 kerja di industri2, lakukanlah dengan serius. Karena ini salah satu metode pembelajaran yang baru
Mahasiswa yang mempunyai IPK tinggi belum tentu memiliki skill yang bagus. Yang dibutuhkan justru adalah mahasiswa yang punya skills yang OK.
B. BUSSINESMAN (BY DR. EDI SUKUR)
“MEMBANGUN BISNIS BERBASIS TEKNOLOGI”
Insya Allah yang hadir di sni adalah calon2 ilmuwan. Kondisi ilmuwan di indonesia ini sangat menyedihkan. So, kalau mau kaya jangan jadi ilmuwan!! Hayo lho….
Anekdot:
Suatu ketika Mr. Bean ketemu dengan Einstein. Mereka taruhan. Kalau Mr. Bean tidak bisa menjawab pertanyaan Einsten, dia harus bayar 5 dolat, tapi kalau einstein yang tidak bisa menjawab pertanyaan Mr. Bean, dia akan bayar 500 dolar.
Einstein: Berapa jarak bumi dan bulan?
Mr. Bean: gak tau.
Mr. Bean pun bayar 5 dolar k Einstein
Mr. Bean: Apa yang naik 3 kaki turun 3 kaki?
Einstein: (mikir, cari jawaban, analisis masalah, tidak terjawab) ga tau
Einsten bayar 500 dolar.
Einstein: terus apa jawabanya?
Mr. Bean: gak tau.
Mr. Bean bayar 5 dolar ke Einstein.
Nah jadi untuk menjadi kaya itu tidak harus pintar tapi harus CERDAS. Kita membutuhkan generasi IPTEK yang memiliki kemampuan bisnis kreatif yang berbasis teknologi, kekayaan alam dan basis budaya di masing2 daerah. Jadi basisnya: IPTEK, Pendidikan dan Bisnisà mengedepankan budaya, teknologi dan SDA
C. MITI MAHASISWA (by: Aldani Malau)
Banyak sekali kasus ketika lulusan universitas masuk ke dunia profesi tanpa memiliki kompetensi di biddang keilmuannya masing2. Ketika orang-orang seperti ni benar-benar masuk ke dunia profesi, maka akan terjadi banyak kerusakan dan musibah di lingkungan kita…
Seharusnya ketika terjadi kerusakan di lingkungan, kita mencari ahli-ahli di bidang tersebut. Sebenarnya kita semua yang telah mendalami bidang kita masing-masing bisa mengatasi masalah-masalah tersebut, tapi seringkali kita baru bersuara ketika masalah-masalah itu sudah muncul.
OPEN DISCUSSION
Sebenarnya apa 2 keyword dari semua permasalahan-permasalahan yang telah kita bicarakan tadi?
Pak Warsito: budaya
Pak Edi: kompetensi dan kerja sama
Aldani: Moral dan keberanian
Pak Lutfi: Komitmen
Diskusi dipending dengan selingan atraksi robot penembak roket dari tim robotik Univ. Brawijaya
Berita Foto: tim robotik Univ.Brawijaya tengah memperagakan sistem kerja robot penembak roket yang dapat digunakan untuk menebar benih tanaman dan menebar jala. Event yang menjadi selingan acara semnas ini memukau para peserta yang hadir.
Pertanyaan dari pak Warsito pada audien: Pilih 3 dari negara maju berikut: jepang, italia, amerika. Potret Indonesia maju masa depan yang tepat itu seperti negara yang mana menurut anda???
èUNJA: Jepang.
èAgus USU: Jepang. Karena berdasarkan letak geografis jepang juga terletak di timur seperti indonesia. Apalagi secara budaya indonesia itu tidak jauh beda dengan jepang.
èIPB: Tidak memilih salah satu dari 3 negara tersebut. Jepang: kurang dari segi agama. Sama juga dengan Italia dan Amerika. Jadi kita akan merangcang sendiri indonesia yang akan datang.
Pak Warsito:
Kalau indonesia itu identik dengan jawa, maka Jepang tuh tepat. Ingat kata kunci kita adalah budaya. Jepang mmiliki budaya yang sangat kental. Budaya secara tidak langsung membentuk cara berpikir kita. Jawa dan jepang yang mirip itu budaya bekerja keras dan iwameru (komitmen untuk mencapai suatu level). Antara Jawa dan Jepang ini sangat mirip. Contohnya kalau di jawa itu seperti gamelan. Komitmen seperti ini ada, untuk mencapai komitmen ini tidak bisa dibeli. Kualitas produk jepang itu bagus karena berada di bawah komitmen iwameru. Tapi komitmen inilah yang menghancurkan jepang. Karena komitmen ini, produk jepang menjadi produk yang bernilai tinggi, mahal sehingga tidak ada yang bisa membelinya. Untuk saat ini akhirnya pun Jepang menurunkan kualitas produknya.
Honda itu menghabiskan seluruh tabungannya, seluruh hidupnya, seluruh jiwa raganya itu untuk menghasilkan motor yang mampu berlari hanya 40 KM/jam. So, bagi seorang ilmuwan untuk meluncurkan produk yang berkualitas membutuhkan kerja keras dan kesabaran yang luar biasa.
Yang lebih mendekati (menurut pak Warsito) adalah italia, terkait dengan budaya juga. Yang paling maju di indonesia adalah sesuatu yang nyeleneh dalam hal ini di bid. seni dan budaya. Hal-hal yang berkaitan dengan budaya kreatif, produk inilah yang berkembang sangat pesat di indonesia. Di italia fashion berkembang sangat pesat.
Pembahasan keyword :
Pak Edi: kompetensi , kerja sama
kelemahan dari kita adalah di kompetensi. Kalau tadi dijlelaskan ttg Italia,memang mereka modis-modis seperti kita (he?). kemajuan yang telah dicapai oleh negara2 tersebut tentunya melalui kompetensi yang luar biasa. Bayangkan, di Jepang ada robot kawameru yang dibuat di jaman Edo. Teknologi percetakan dan Printing, gak da yang ngalahin jepang. Sejak dulu jepang kalau buat sesuatu gak pernah cuma 1 saja nyetaknya. Tapi mereka buatnya sangat beragam, misalnya nyetak baju, jadi gak cuma 1 saja tapi dibuat dengan beragam warna dari warna yang dekat-dekat dulu. Nah terkait kompetensi ini di Indonesia belum jelas..
Pak Lutfi:
Kompetensi yang harus dimiliki oleh Indonesia ini adalah yang terkait dengan budaya. Salah satu kelebihan orang-orang amerika tu adalah kreatifitas, mulai kecil pihak sekolah dibiarkan untuk mengekspresikan kreatifitasnya. Oleh karena itu hampir 80% penerima nobel berasal dari Amerika.
P Warsito:
Kompetensi yang harus diunggulkan di Indonesia: budaya. Budaya indonesia yang sama juga dengan Italia adalah tidak suka diatur. Tidak seperti jepang yang segala sesuatunya diatur, termasuk tomat yang dihasilkan di pertanian; tomatnya harus sama bentuk, besar dan warnanya (hayo lho...bagaimana caranya mengatur itu?)
Moderator: kalau di dunia kerja sama seperti apa yang diharapkan?
P Edi: kelemahan kita sbg ilmuwan tu adalah suka asyik sendiri, jadi sulit bekerja sama. Positifnya memang mereka bisa fokus tapi akan jadi sulit untuk bekerja sama. Untuk membuat mesin detektor saja kita membutuhkan banyak personel. Di Indonesia masih sulit buat kerja sama, komunikasi juga sulit.
Nah di dunia industri pun ada banyak bagian dan bidang. Kalau kita tidak bisa bekerjasama maka percuma, kita tidak akan berkembang. Maka kita pun harus bisa mengembangkan softskill kita. Antara kompetensi dan softskill ini kita harus lihat mana yang paling menonjol. Perlu kita perhatikan kompetensi kita dimana dan softskill kita apa? Kemudian kita kembangkan potensi dan softskill kita.
Moderator: bgmn pemerintah menghadapi perilaku2 yang beragam terkait dengan kompetensi td?
P Warsito: budaya, kompetensi dan kerja sama adalah keyword. Nah ke depan, budaya kita itu sulit untuk dibuat seragam. Bagaimana dari budaya tersebut kita dapat membangun bangsa dengan basis kompetensi. Kompetensi yang menonjol dari beberapa orang, ini bisa dijadikan pondasi untuk membangun bisnis berdasarkan kompetensi yang ada.
Moderator: Kenapa dengan Moralitas? Apa yang salah dengan moralitas bangsa kita?
Aldani: permasalahan-permasalahan yang ada di pemerintahan, bagaimana kita menghadapinya? Jaman sekarang, banyak sekali org pintar. Siapa yang menyebabkan kebakaran hutan? Mengalirnya limbah di sungai? Semuanya adalah orang-orang pintar. Jika kita tidak punya moral, maka keilmuan yang kita miliki hanya akan menjdikan produk yang tidak memberi manfaat untuk lingkungan.
Atau seringkali, kita punya solusi terhdap beberapa permasalahan-permasalahan bangsa tapi seringkali kita tidak punya keberanian untuk mengklaim solusi tersebut, bahkan untuk ngomong pun tidak berani. Maka di sini kt butuh keberanian.
Diskusi tambahan:
Fikri (UNDIP): moralitasà hal2 yang membatasi kita untuk tetap lurus.
Apa yang bisa diberikan dari kehutanan u mendukung iptek indonesia?
Dari kita yang penting adalah yang berkaitan dengan perubahan iklim, yaitu penyerapan CO2. Hutan memiliki kemampun menyerap CO2 tersebut. Nah penelitian terkait penyerapan CO2 tersebut masih sangat minim. Kita sdh membuat MOU terkait riset ttg iklim di indonesia
Bagaimana pemetaan perkembangan teknologi di daerah??
1 village 1 product yang berkaitan dengan produk teknologi. Tiap daerah memiliki SDA. Tiap daerah ini akan diberikan produk teknologi untuk mengembangkan SDA-nya masing-masing. Menristek akan membantu mengembangkan produk berbasis teknologi tersebut
5 tim pemenang hibah MITI berfoto bersama Ketua MITI (Dr Warsito, M.Eng), Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat MITI (Dr. Edi Sukur) dan tim MITI-Mahasiswa
Hari itu, Minggu 19 Agustus 2009, Hotel Bumikarsa Jakarta dihebohkan oleh kedatangan 5 tim pemenang hibah MITI dalam acara Muktamar, Seminar dan Pameran (MSP) MITI. Rombongan dua tim pemenang dari UGM, dengan mengenakan jas almamater mereka yang khas, datang dengan wajah cerah dan penuh semangat. Tak kalah semangatnya adalah tim dari Univ. Mataram, yang jauh-jauh ke Jakarta untuk mempresentasikan proyeknya. Dua tim yang lain berasal dari UNNES dan UNS yang juga hadir dengan penuh kebanggaan karena telah berhasil mengalahkan puluhan kandidat tim yang lain.
Para pemenang hibah mempresentasikan proyek pengembangan masyarakat (community development) sebagai tema yang diminta oleh MITI sebelumnya. Setiap tim mendapatkan dana awal sebesar 5 juta rupiah untuk kemudian dikembangkan sesuai dengan program yang telah mereka ajukan dalam proposal. Penghargaan secara simbolik diberikan oleh para pengurus MITI Pusat, di antaranya adalah Dr. Warsito, M.Eng dan Dr. Hotman. Dr. Warsito berharap bahwa tahun depan para mahasiswa bisa menghasilkan 100 proyek community development untuk dikembangkan di seluruh penjuru Indonesia.
Titisari Dian Pertiwi, ketua departemen Riset dan Kompetensi MITI-Mahasiswa mengatakan bahwa program ini telah berlangsung dua bulan sebelumnya dengan menjaring kompetensi mahasiswa di seluruh Indonesia dalam hal community development (comdev). Program ini bertujuan untuk mengasah kompetensi keilmuan mahasiswa di samping untuk memfasilitasi peran mahasiswa dalam kontribusinya terhadap masyarakat. Program ini juga diharapkan dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan pandapatan (income) dengan rancangan program pemberdayaan yang telah disusun oleh para pemenang hibah. Titisari menambahkan bahwa ia berharap tahun depan kualitas dan kuantitas dari program comdev ini semakin meningkat, sehingga kontribusi nyata mahasiswa dapat lebih dirasakan oleh masyarakat.
Dua tim dari UGM: Tim Adhita Sri P. dan tim Aji Mindarsih. Adhita dkk memenangkan hibah atas proyek proposal mereka yang berjudul Pemberdayaan Masyarakat Melalui Aplikasi Bioaktivator Good Bacteria-1(GB- 1) untuk Pengolahan Limbah Organik Menjadi Biofertilizer dan Organic Fertilizer, dan Aji Mindarsih dkk dengan proposal berjudul Pembuatan Kerupuk Susu Sebagai Alternatif Usaha Untuk Menambah Penghasilan Masyarakat Dusun Petung.
Beberapa personel MITI-Mahasiswa dan MITI Pusat berfoto bersama di akhir acara. Ki-Ka: Gunawan (staf HAL), Pariman (Staf HLN), Dr. Warsito, M.Eng, Dr. Edi Sukur, Ellita (Sekjend MITI-M), Titisari Dian (Ketua dept. Riset dan Kompetisi). Kerja Keras, Pantang Menyerah! Gambatte Kudasai!
Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) meluncurkan lembaga riset virtual yang diberi nama Indonesian Virtual Research Laboratories (IVR Labs) pada tanggal 25 Januari 2009. Peluncuran dilakukan oleh DR. Warsito P. Taruno, ketua umum MITI berlokasi di Wisma Pemuda, Jakarta dan dihadiri oleh lebih dari 100 perwakilan MITI-Mahasiswa dari 45 kampus dari 20 provinsi di seluruh Indonesia.
IVR Labs merupakan sebuah institusi riset virtual yang mengorganisir ilmuwan Indonesia yang tersebar di dalam dan luar negeri untuk melakukan koordinasi riset melalui sistem kolaborasi secara “open source”. IVR Labs menggunakan internet sebagai basis koordinasi kerja, diskusi ilmiah, seminar serta publikasi.
Kegiatan utama IVR Labs adalah melakukan bimbingan jarak jauh bagi mahasiswa dan peneliti muda Indonesia yang berafiliasi di universitas dan lembaga riset di Indonesia untuk menyelesaikan tugas akhir seperti skripsi, tesis maupun disertasi. Melalui IVR Labs para mahasiswa Indonesia bisa memanfaatkan fasilitas riset dan sumber daya iptek lain yang dimiliki oleh universitas dan lembaga riset terkemuka di dunia melalui kolaborasi internasional.
Melalui IVR Labs MITI berusaha memberikan kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk melakukan riset kelas dunia, berpartisipasi di forum ilmiah internasional dengan dibimbing langsung oleh ilmuwan Indonesia di luar negeri. Bagi ilmuwan Indonesia di luar negeri IVR Labs bias menjadi ruang untuk memberikan kontribusi mereka bagi pengembangan riset dan pendidikan di dalam negeri sambil tetap berada di luar negeri.
Saat ini sudah terdaftar kurang lebih 50 doktor di berbagai bidang keilmuan yang berafiliasi di universitas dan lembaga penelitian di seluruh dunia. MITI mentargetkan akan menjaring sebanyak 500 doktor Indonesia yang tersebar di seluruh dunia dan menghubungkannya dengan ribuan anggota MITI-Mahasiswa yang tersebar di 50 kampus dan 26 provinsi di seluruh Indonesia.
Sistem IVR Labs yang dikembangkan MITI bisa menjadi cara yang paling efisien dengan biaya yang sangat murah untuk mendorong pengembangan iptek di dalam negeri dengan memanfaatkan fasilitas dan sumber daya riset yang dimiliki institusi di luar negeri melalui kolaborasi dunia maya.
Selama ini banyak universitas dan lembaga riset dunia yang mengalami kemunduran akibat kurangnya sumber daya manusia, sementara salah satu kendala kurang berkembangnya riset di dalam negeri adalah kurangnya fasilitas dan minimnya sumber daya ilmiah lain. Dengan IVR Labs MITI berusaha membangun jembatan antara institusi riset di dalam dan luar negeri untuk menciptakan kolaborasi melalui dunia maya yang murah, mudah dan saling menguntungkan. IVR Labs diharapkan juga akan mendorong percepatan tercapainya upaya mengembangkan universitas riset di universitas-universitas Indonesia. [ ]
SUMBER: Sekretariat MITI, Jl. Duren Tiga Selatan No.17, Jakarta 12760; Tel. +62 21 799 1470; Fax. +62 21 791 98 761; E-mail: sekretariat@miti.or.id
Foto: Launching IVR Labs, 25 Januari 2009, Wisma Pemuda, Cibubur, Jakarta Timur