miti bar

Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Saturday, August 22, 2009

Efek yang Terjadi di Bulan Ramadhan Dari Berbagai Aspek


Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini kita mengerjakan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Pada bulan Ramadhan ini berbagai kejadian maupun keuntungan yang terjadi dari berbagai aspek. Kejadian yang terjadi merupakan tantangan yang dihadapi.

Puasa secara bahasa berarti menahan diri. Arti puasa secara istilah adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Makna menahan diri di sini tidak hanya menahan diri dari rasa lapar atau rasa haus belaka, tetapi menahan diri baik dalam mengendalikan nafsu maupun pikiran.

Puasa merupakan suatu kegiatan yang memberikan efek dari berbagai aspek terutama pada saat bulan Ramadhan. Aspek yang utama memberikan efek positif adalah aspek kesehatan.
Jika kita melihat puasa dari aspek kesehatan fisik maka kita dapat menduga ini berasal dari tidak makan setengah hari. Hal menarik ketika hidup di Negara yang tidak dominan beragama Islam, beberapa orang akan menanyakan kepada kita apakah kamu tidak mati kelaparan?

Mereka akan berpikir puasa merupakan kegiatan menyiksa diri sendiri apalagi jika mereka tahu ga makan dan minum dari pagi sampai sore menjelang malam. Jika kita melihat berdasarkan aspek kesehatan bahwa puasa merupakan kegiatan yang baik. Dimana pada saat kita puasa alat pencernaan kita akan mengalami istirahat.

Orang yang berpuasa tidak makan dan minum sekitar 8-10 jam (kasus yang berbeda dihadapi kaum muslimin yang tinggal daerah subtropics yang bisa memakan waktu puasa sekitar 12 jam pada musim panas). dan itu tidak membahayakan kesehatan dan tidak menyebabkan dehidrasi yang buruk bagi tubuh manusia. Sebaliknya, dehidrasi ringan dan penyimpanan air dalam tubuh bisa meningkatkan kesempatan hidup. Dampak positif lainnya bagi tubuh, puasa bisa menurunkan kadar gula darah, kolesterol dan mengendalikan tekanan darah. Itulah sebabnya, puasa sangat dianjurkan bagi perawatan mereka yang menderita penyakit diabetes, kegemukan dan darah tinggi. (sumber http://www.litbang.depkes.go.id/ ). Akan tetapi jika secara medis tidak memungkinkan berpuasa, maka sebaiknya kita tidak berpuasa. Apabila tidak bisa berpuasa pada bulan Ramadhan dikarenakan alas an tertentu, kita masih bisa menggantikan puasa tersebut pada hari yang lain, apabila masih tetap tidak bisa puasa lagi bisa diganti dengan bayar fidyah. Sesungguhnya Allah tidak memberatkan hambaNya.

Puasa juga memberikan efek terhadap kesehatan psikis kita. Berdasarkan pengertian puasa yaitu menahan diri, kita juga diwajibkan untuk menahan diri dari nafsu. Ramadhan merupakan waktu yang optimal menjalankan puasa selama sebulan penuh. Selama sebulan penuh jika kita menjalankan puasa secara yang benar yaitu menjalankan puasa berdasarkan definisi utuh maka kita akan mendapatkan kesehatan secara psikis. Dimana pada saat puasa kita mengendalikan nafsu baik nafsu amarah, nafsu syahwat, nafsu makan, nafsu untuk mendapatkan sesuatu dll. Mengendalikan di sini bukan berarti meninggalkan atau tidak melakukan tetapi melakukan sesuatu berdasarkan hak dan ukurannya. Dengan melatih diri kita dalam mengendalikan diri selama sebulan penuh maka jiwa orang berpuasa akan memiliki jiwa yang arif, dia akan melakukan sesuatu berdasrakan kadar kebaikan buat dirinya dan bagi orang sekitar. Umat Islam senantiasa mengingat nasehat Nabi Muhammad SAW yang mengatakan, “Jika sesesorang menghujatmu atau menyulut emosimu, katakanlah bahwa saya sedang berpuasa.”

Dari aspek kepekaan social, puasa memberikan rasa empati bagi rakyat yang tidak sejahtera. Makna puasa ini bisa membuat orang yang kaya merasakan penderitaan orang miskin. Hal ini dapat dirasakan bahwa pada menjalankan puasa setiap manusia akan merasakan kondisi yang sama pada siang hari yaitu kondisi menahan lapar. Bisa kita perhatikan pada saat menjalankan puasa dapat mengurangi kesenjangan social antar si kaya dan si miskin.

Dari aspek rasa kekeluargaan terasa juga efek yang diberikan pada bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan ibadah yang menjadi langganan umat muslim adalah ibadah shalat Tarawih berjama’ah. Pada saat menjalankan ibadah shalat berjama’ah biasanya penduduk di suatu daerah akan beramai-ramai dating ke mesjid untuk menuaikan ibadah shalat Tarawih berjama’ah. Nah, dengan berkumpulnya warga di mesjid maka bisa dimanfaatkan sebagai ajang silaturahim. Oleh karena itu rasa kekeluargaan bisa ditingkatkan dengan memanfaatkan momen silaturahim di mesjid. Selain itu rasa saling berbagi iftar bersama di mesjid juga terasa. Hal ini dapat terlihat dengan membuat jadwal pemberian iftar bersama di mesjid yang dilakukan oleh DKM mesjid. Hal yang terpenting adalah bagaiman memanfaatkan momen silaturahim di mesjid ini sebagai momen untuk mempererat rasa kedekatan.


Yang cukup menarik fenomena yang sering muncul di bulan Ramadhan pada aspek ekonomi. Fenomena tersebut adalah lonjakan harga-harga pada saat bulan Ramadhan. Berdasarkan teori ekonomi , harga akan naik apabila permintaan naik tetapi penwaran dalam jumlah sedikit. Dan pada teori ini diharapkan harga muncul pada kondisi equilibrium (bisa dilihat pada Gambar 1.).



Gambar 1. Kurva Permintaan dan Penawaran
Pada aspek ekonomi inilah menjadi tantangan bagi para peneliti di bidang ekonomi untuk menciptakan teori baru. Teori seperti ini bisa membuat pedagang berlaku curang dengan cara menimbum barang-barang sampai bulan Ramadhan barang tersebut akan dijual. Dalam kondisi ini pedagang melihat suatu peluang mendapat keuntungan jika barang-barangnya dijual pada saat bualn Ramadhan (terutama sembako) karena pedagang sudah memprediksi bahwa permintaan pada bulan Ramadhan akan meningkat. Untuk mengantisipasi kondisi ini, peran pemerintah juga diharapkan menjadi pihak yang bisa mengendalikan teori ekonomi ini.

Pada aspek teknologi yang menjadi tantangan para ilmuwan adalah bagaimana caranya menentukan awal Ramadhan dan tanggal 1 Syawal. Ini merupakan isu setiap tahun dalam penentuan jadwal Ramadhan. Dalam buku “Rukyah dengan teknologi: Upaya Mencari Kesamaan Pandangan tentang Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal”, Dr. Ir. S. Farid Ruskanda, M.Sc mengungkapkan ada berbagai alternatif teknologi untuk pengamatan (rukyah) bulan sabit (hilal) yang menandai awal dari bulan pada tahun qamariah secara objektif. Pengamatan objektif dilakukan melalui instrument observasi dan dapat direkam serta dipancar-luaskan. Alternatif pertama adalah perangkat teleskop kamera video untuk cahaya tampak; kedua, perangkat untuk inframerah untuk penyinaran bulan dengan laser secara aktif; dan keempat dengan menggunakan perangkat radar.
Selanjutnya Dr. Ir. S. Farid Ruskanda, M.Sc menjelaskan bahwa ketiga alternatif pertama, yang menggunakan teknologi optoelektronik, praktis tak dapat mengatasi kendala cuaca (awan dan sebagainya) sedangkan pilihan keempat, menggunakan gelombang mikro, berpotensi untuk mengatasi masalah cuaca tersebut.

Selanjutnya aspek transportasi, akhir ramadhan merupakan puncak arus penggunaan transportasi untuk mudik. Transportasi yang padat hampir semua transportasi yaitu transportasi melalui darat, laut dan juga udara. Yang menjadi isu di aspek ini adalah bagaiman cara untuk mengatur semua sarana transportasi bisa mengurangi tingkat kecelakaan.
Dari uraian di atas, bulan Ramaadhan memberikan efek yang dahsyat bagi diri kita terutama dalam aspek kesehatan, social dan kekeluargaan. Semoga Ramadhan yang kita hadapi merupakan Ramadhan yang lebih baik dari sebelumnya.

Hadi Teguh Yudistira
Anggota Bidang Riset & Kompetisi MITI-Mahasiswa
READ MORE - Efek yang Terjadi di Bulan Ramadhan Dari Berbagai Aspek

Wednesday, February 04, 2009

Membaca, Menulis dan Sistem Pencernaan

oleh: Cahya Hw.*)

Apa hubungannya antara membaca, menulis dan sistem pencernaan? Beberapa ahli pengembangan diri, khususnya di bidang membaca dan menulis, aktivitas membaca dan menulis itu mirip dengan proses pencernaan makanan. Tentang ini, dalam buku "Mengikat Makna", Hernowo mengatakan pernah mengajar mata kuliah Digesting (pencernaan) pada sebuah sekolah tinggi di Bandung.

Ketika dulu kita duduk di bangku SMP maupun SMU, pada pelajaran biologi kita telah dijelaskan tentang bagaimana proses pencernaan itu berlangsung. Mula-mula makanan dimasukkan ke mulut dan mengalami pencernaan secara mekanis, oleh gigi, dan pencernaan kimiawi oleh enzim ptialin. Setelah dikunyah, makanan masuk ke lambung melalui kerongkongan. Di lambung dan juga di usus dua belas jari, makanan mengalami pencernaan secara kimiawi dengan enzim yang khusus bekerja pada macam zat gizi tertentu. Kemudian sari makanan dan nutrisi diserap oleh usus halus kemudian diedarkan ke seluruh tubuh. Sisa-sisanya atau ampasnya, akan dibuang melalui usus besar kemudian anus.


Dari sari makanan yang diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh, akan menghasilkan energi dari proses yang terjadi di dalam mitokondria. Energi itu kemudian kita gunakan untuk beraktivitas. Jika tidak atau belum dibutuhkan untuk aktivitas, maka nutrisi akan disimpan dalam jaringan tubuh dalam bentuk yang lain. Misalnya glukosa (gula darah) diubah menjadi glikogen (gula otot), asam lemak menjadi lemak, dan seterusnya.


Analog dengan proses itu, saat kita membaca, kita memberikan input makanan pada otak kita. Bahan bacaan yang merupakan ‘makanan’ kita itu, setelah masuk akan diolah, dicerna di dalam ‘alat pencernaan’ pengetahuan, yakni otak manusia. Dari hasil proses ‘pencernaan’ itulah kita akan memperoleh kesimpulan baru, wawasan baru, atau sistematika pengetahuan baru yang kemudian disimpan rapi dalam memori kita. Pengetahuan dan ilmu itu disimpan dalam ingatan kita, dan siap di-recall jika sewaktu-waktu diperlukan. Namun, jangan sampai pengetahuan yang tersimpan dalam memori ini dibiarkan begitu saja, tanpa sering digunakan. Jika seperti itu, suatu saat memori itu akan mengalami obsolete dan lama-kelamaan akan mengalami degradasi, sehingga data-data pengetahuan itu akan lenyap sedikit demi sedikit.


Sebagaimana jika dianalogikan kembali dengan pencernaan. Bila cadangan energi dalam bentuk simpanan nutrisi itu disimpan saja, tidak digunakan untuk beraktivitas maka akan terdapat timbunan nutrisi yang nantinya membuat keseimbangan dalam tubuh kita terganggu. Sebagai contoh, nanti bisa mengalami obesitas karena timbunan lemak yang berlebihan. Justru yang seperti ini tidaklah sehat bagi tubuh. Lain halnya jika digunakan untuk bekerja, maka yang terjadi adalah penguatan otot dan organ, karena jaringan tubuh bekerja, sehingga dapat memperkuat tubuh itu sendiri.


Maka, dalam aktivitas membaca pun perlu penyeimbangan dengan aktivitas lain yang merupakan aktivitas kerja untuk menyalurkan ‘energi’ berupa ilmu dan pengetahuan itu. Dan aktivitas itu tiada lain adalah menulis. Bagaimana mungkin kita hanya mengkoleksi ilmu pengetahuan yang kita serap sejak SD, bahkan TK hingga ke perguruan tinggi, tidak hanya S1 namun sampai S3, tanpa ada aktivitas penyaluran keluar dari pelbagai pengetahuan yang kita kumpulkan itu? Maka bisa jadi, kita akan mengalami 'obesitas pengetahuan'.



Menulis dikatakan oleh beberapa tokoh sebagai upaya mengikat makna. Karena ilmu dan pengetahuan yang tidak direkam dalam tulisan akan cepat hilang, maka dengan adanya aktivitas penulisan inilah, ilmu dapat dipertahankan bahkan dikembangkan. Sehingga saat ini manusia telah mengalami kemajuan peradaban yang luar biasa, khususnya dalam teknologinya. Itulah salah satu dampak dahsyat dari aktivitas menulisnya manusia.


Menulis juga akan membantu aktivitas membaca. Bagi yang kerjanya hanya membaca saja, maka suatu saat akan mengalami kejenuhan dan kebosanan. Hal ini dapat di-refresh dengan menuliskan apa saja yang ada dibenaknya saat itu. Apa saja yang terekam dalam pikirannya, yang diperolehnya dari membaca harus dituangkan kembali dalam tulisan, yang tentunya memiliki sistematika baru, dengan adanya kombinasi pelbagai bahan bacaan.


Dengan menulis, maka aktivitas membaca akan lebih berarti. Dengan menulis, ilmu dan pengetahuan pun akan jauh lebih berarti. Maka … mari menulis!! [ ]


*) Penulis adalah Kabid PSDM MITI-Mahasiswa periode 2007-2008

READ MORE - Membaca, Menulis dan Sistem Pencernaan

Monday, January 26, 2009

Kebebasan dan Etika Ilmu Pengetahuan

Oleh Dr. Arief B. Witarto, M.Eng


Dahulu di Indonesia, kita pernah merasakan sebagai besar sumber daya (manusia, dana dan sebagainya) ilmu pengetahuan bangsa ini diarahkan oleh Pemerintah untuk ambisi tertentu. Tanpa mempertimbangkan needs (kebutuhan) dan seeds (kesiapan pendukung) masyarakat, kita saksikan proyek-proyek itu akhirnya tidak mensejahterakan rakyat. Kemampuan teknologi yang didapatkan tak sebanding dengan besarnya investasi sehingga ekonomi bangsa ini tak kunjung pulih karena minimnya industri dalam negeri yang kokoh didukung oleh daya saing (MS Iman, 2000).

Di lain pihak, peran ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dalam segala sektor makin lama terasa makin besar. Bila di awal abad 20, ekonom seperti Schumpeter dalam teorinya telah memprediksikan bahwa inovasi iptek akan mendorong pertumbuhan ekonomi, sekarang kita menyaksikan industri teknologi informasi telah membangun new economy dengan karakter dan pasar yang berbeda dengan ekonomi kontemporer yang didukung oleh industri otomotif, baja dan lain-lain.

Demikian pula dalam sektor militer, kesehatan dan sebagainya, peran iptek sangat menonjol dalam memajukannya. Sehingga wajar, banyak pihak termasuk para politisi dan industriawan menaruh perhatian besar pada iptek yang dengan pengaruhnya berusaha menyetir pengembangan iptek sesuai keinginannya. Gejala seperti ini terjadi sudah sejak jaman dulu. Bisa dirunut dari kekangan kalangan agamawan yang menghukum Galileo Galilei karena mengembangkan teori bumi berputarnya yang bertentangan dengan kepercayaan saat itu.

Saat ini pun kita bisa menyaksikan dana penelitian untuk penyakit AIDS jauh lebih besar daripada penyakit malaria yang diderita oleh lebih banyak manusia di dunia khususnya di negara-negara berkembang misalnya, karena dukungan dari para selebritis di negara maju yang tak sedikit menjadi penderitanya.

Dalam era globalisasi ini, hendaknya praktek-praktek pengekangan kebebasan berpikir, kebebasan mengembangkan ilmu pengetahuan seperti di atas, perlu dikurangi sampai kepada titik nol. Namun di sini, kebebasan itu bukan lalu berarti "boleh melakukan apa saja".

Kita saksikan teknologi-teknologi new economy justru lebih banyak bersinggungan dengan masalah etika. Misalnya dengan kemajuan teknologi informasi, masalah privacy/pribadi menjadi lebih gampang dilanggar yaitu dengan makin mudahnya penyadapan informasi, pencurian data dan lain-lain. Demikian pula dengan perkembangan bioteknologi seperti masalah pangan transgenik, kloning manusia dan sebagainya. Dalam hal ini masalah dignity/martabat kita sebagai manusia sering terkesampingkan.

Untuk itu, kalangan ilmuwan, politisi, masyarakat maupun industriawan yang berkepentingan dengan ilmu pengetahuan, perlu memahami makna kebebasan yaitu seperti dikatakan oleh Bernard Shaw, liberty means responsibility. Para ilmuwan yang mengembangkan iptek perlu bersikap self-restraint/menjaga diri karena tak jarang perkembangan iptek yang pesat sering mendahului aspek moral yang seharusnya dapat membimbingnya untuk kesejahteraan masyarakat.

Contoh yang monumental adalah kesepakatan ilmuwan bioteknologi pada tahun 1970-an yang dengan Moratorium Berg-nya secara suka rela membatasi diri dalam pengembangan teknologi DNA rekombinan sampai public acceptance/penerimaan masyarakat maupun keamanannya menjadi jelas. Sayangnya, pertimbangan bisnis dalam dunia ilmu pengetahuan dewasa ini makin kuat sehingga hal seperti ini menjadi langka, misalnya dalam kasus kloning manusia (lihat misalnya dalam artikel "Kloning Anak Manusia dan Bisnis" oleh penulis di Harian Kompas, 21/4/2002).

Untuk menghindarinya, komunikasi antara para ilmuwan dengan politisi, tokoh agama maupun industriawan perlu makin ditingkatkan. National Bioethics Commission di Amerika misalnya, dalam membahas rekomendasi pengembangan teknologi kloning telah meminta pendapat seluruh tokoh agama termasuk Katholik, Islam, Yahudi dan lain-lain. Masih di Amerika, setiap dana proyek penelitian yang kiranya bersinggungan dengan masalah etika, diwajibkan ada alokasi untuk kajian mengenainya. Di belahan bumi lain, untuk mencerahkan para politisinya, dalam Parlemen Uni Eropa ada program khusus diskusi dengan para ilmuwan selama dua jam sepekan, demikian pula di negara-negara maju lainnya seperti Australia, Amerika dan lain-lain.


Dr. Arief B. Witarto, M.Eng
Peneliti pada Pusat Penelitian Bioteknologi - LIPI Cibinong, Bogor. Departemen Teknologi dan Industri-CIR, Jakarta
READ MORE - Kebebasan dan Etika Ilmu Pengetahuan

SDM Iptek

Oleh Dr. Arief B. Witarto, M.Eng


Tantangan menuju masyarakat peduli pengetahuan yang terakhir adalah masalah sumber daya manusia (SDM). Sehebat apapun teknologi yang dibeli, peralatan yang dipersiapkan, dana yang dikucurkan dan lain-lain, tetaplah SDM di belakangnya yang paling berperan. Walaupun otomatisasi telah merambah ke semua lini, tanpa ada SDM yang sanggup mengoperasikannya, semua itu menjadi barang tak berguna. Demikian pula, mengenai masalah moral. Apabila iptek diibaratkan sebagai pisau dengan dua sisi, maka hanya SDM yang sadar etika saja yang dapat menghidari terjadinya moral hazard. Dengan demikian, pengembangan SDM yang berkualitas secara intelektual dan moral adalah masalah yang sangat urgen.

Dalam pengembangan iptek, membangun ketertarikan generasi muda terus berusaha dipacu oleh negara-negara maju. Berbagai sarana dimanfaatkan termasuk program televisi yang lebih mudah dicerna, selain tentu saja pendidikan di sekolah. Sayangnya di Indonesia, program-program televisi dipenuhi oleh sinetron, kuis dan berita selebritis/politik. Kalaupun ada program yang bersifat ilmu pengetahuan, berasal dari luar negeri sehingga kepentingan dan kebutuhan lokal kurang terperhatikan.

Di Jepang, negara industri dengan perekonomian terkuat ke dua di dunia, profesi yang paling diidamkan generasi mudanya adalah menjadi pemain baseball. Oleh karenanya, dalam UU ipteknya, penyebaran iptek untuk masyarakat umum menjadi salah satu prioritas.

Sayangnya, UU iptek kita yang sekarang kurang memberikan perhatian penanganan SDM dengan tidak adanya bab/pasal khusus mengenainya. Tidak mengherankan, sejak jaman Orde Baru praktik manajemen SDM kita berantakan dan banyak terjadi brain drain baik secara geografis (dari dalam ke luar negeri) maupun sektoral (dari bidang iptek ke bidang ekonomi khususnya).

Pendidikan adalah kunci penting dalam pembinaan SDM. Dalam era globalisasi dengan aliran SDM yang makin bebas, profesionalitas akan makin dihargai. Di Jepang, servis cuci mobil oleh pekerja profesional, bisa bertarif lima kali lebih besar daripada servis serupa oleh pekerja biasa. Tapi untuk dikatakan profesional, pekerja itu harus paham sampai kepada bagaimana proses pengecatan bodi mobil yang akan dicuci.

Sudah tidak "jamannya", lembaga-lembaga pendidikan kita berlomba mencetak dokter/insinyur/sarjana hukum dan sebagainya, sebanyak-banyaknya lagi. Setiap orang dilahirkan dengan potensi berbeda. Pendidikan yang sukses adalah yang dapat menggali potensi tersebut sekaligus memberi bekal moral. [ ]
READ MORE - SDM Iptek

Pemberdayaan Bangsa Sebuah Keharusan

Oleh Dr. Warsito

Bagaimana jika 90 persen lebih sumber energi sebuah bangsa dikuasai oleh pihak asing? Berapa lama negara itu akan mampu bertahan secara ekonomi? Atau seberapa bebas keputusan politik bisa diambil oleh para pemimpinnya? Dan yang lebih memprihatinkan lagi seberapa mahal harga yang harus dibeli oleh rakyatnya? BBM? TDL? Hingga tarif jalan tol.

Apa yang tidak ada di Indonesia? Minyak paling tidak cukup untuk 25 tahun lagi. Gas bisa membiayai pembangunan hingga 65 tahun. Batubara bisa menjadi sumber energi selama 150 tahun. Belum lagi panas buminya, yang tidak akan pernah habis untuk menjadi sumber penerangan seluruh nusantara. Pegunungan Grasberg saja mengandung emas tidak kurang dari dua juta kg, terbesar di dunia, ditambah tembaga dan batubaranya yang terbesar ketiga di dunia.

Akan tetapi itu hanyalah sebatas "kebanggaan nasional" yang dicekokkan ke murid-murid SD dan SMP di buku-buku kewarganegaraan. Tak sedikit pun memberi manfaat bagi hidup dan masa depan murid-murid yang masih "jujur" dan bersih dari kebusukan itu.

Bagaimana mungkin mereka mendapatkan manfaat kemaslahatan yang sebesar-besarnya dari sumber kekayaan alam yang dijamin oleh konstitusi? 85 persen rakyat mereka hanya hidup rata-rata dengan 30 sampai 50 sen per orang per hari. Silakan bayangkan sendiri hidup apa yang bisa dibuat dengan 30 sampai 50 sen. Dengan taraf hidup yang mendekati dasar bumi itu mereka harus membayar BBM dan listrik dengan harga Singapore atau New York.

Bagaimana mungkin hal ini terjadi di bumi mereka? Padahal minyak dibor dari kolong tidur mereka. Batubara dikeruk dari ladang mereka. Dan emas ditambang dari kebun mereka.

Anda kaget dengan kelaparan yang mematikan melanda suku Yahokimo di pedalaman Irian? Ooh, itu terlalu jauh bagaikan di bulan. Anda akan dengan mudah mendapatkan busung lapar dan polio merajalela di ketiak Jakarta sendiri. Jangan heran pula dengan orang yang hanya makan tiwul atau nasi aking yang tadinya hanya untuk makan ternak. Bahkan para sopir taksi yang termasuk kalangan menengah sekali pun hanya bisa bertahan dengan ubi. Entahlah, bertahan hidup bagi mereka merupakan sesuatu yang patut disyukuri atau kepasrahan yang tidak menyisakan jalan keluar.

Berapa pun biayanya, berapa pun lama waktu yang diperlukan, bangsa ini harus diberdayakan. Karena itu satu-satunya jalan yang tersisa.

Anda bertanya bahwa ini sudah menjadi kewajiban asasi pemerintah? Ooh, pemerintah Anda masih belum puas dengan tingkat penguasaan asing atas sumber energi nasional yang 90 persen lebih itu.

Cadangan minyak terbukti di tempat yang paling mudah yang akan menambah cadangan dan produksi nasional hingga 20 persen mereka hadiahkan pula, dengan alasan rakyat mereka tidak mampu mengelolanya. Belum lagi cadangan yang belum terbukti, yang diperkirakan melampaui seluruh cadangan minyak nasional yang ada. Anda benar, saya sedang berbicara tentang Blok Cepu.

Bukan itu saja. Pemerintah mereka telah menganggap bangsa ini sudah tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan energi dalam negeri sendiri. Karenanya pasar BBM dan listrik nasional pun harus dibuka ke asing pula. Untuk menfasilitasinya harga BBM dan TDL perlu dinaikkan hingga harga `keokonomian' agar pengusaha asing bisa memperoleh untung. Tak peduli rakyat mampu membelinya atau tidak.

Tidak ada peraturan perundang-undangan yang melindungi secara hukum? Oh, itu bukan masalah. Undang-undang bisa dibuat sesuai dengan kehendak investor. Kalau tidak ada ahli dan duit untuk membuatnya mereka siap membiayai. Atau bahkan mereka tidak perlu berpikir atau menulis undang-undang itu sendiri. Mereka cukup menghabiskan waktunya untuk belanja di mal-mal terkenal di seluruh dunia sambil melakukan studi banding dan agen-agen asing akan menyiapkan draft undang-undang itu. Beberapa tahun kemudian investor-investor tersebut akan datang kepada mereka membawa bill yang sudah berlipat ganda sebagai sunk cost. Tidak mengapa, alam kita kaya raya, berapa pun cost-recovery-nya akan bisa ditanggung.

Bertentangan dengan konstitusi? Konstitusi adalah buatan manusia. Kapan diperlukan bisa diamandemen sesuai dengan kebutuhan.

Anda pasti bisa menebak, saya sedang membicarakan amandemen UUD 1945 pasal 33 tahun 2002 dan UU liberalisasi sektor migas No 22 yang ditetapkan setahun sebelumnya. Dan jangan heran kalau orang yang mengajukan UU itu adalah orang yang Anda pilih untuk memimpin negeri ini. Dan mereka sedang gigih berdiri di pihak yang melindungi kepentingan investor dari ancaman rakyat yang sedang kelaparan.

Saya setuju dengan Anda bahwa orang-orang seperti Anda harus diberi kesempatan untuk merubah nasib bangsa ini. Karena Anda paling tidak adalah orang-orang yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan yang tidak pernah dicapai oleh ratusan juta rakyat bangsa ini yang sebagian besar hanya lulus SD. Saya tahu Anda mempunyai keyakinan yang mendalam untuk mampu berdiri tegak di hadapan bangsa mana pun juga.

Hanya saja sayang, saat ini negeri Anda tidak cukup memberi ruang gerak bagi Anda. Anda harus mencari peluang sendiri dan menghadapi segala tantangan apa pun, termasuk dari dalam diri Anda sendiri. Tetapi Anda harus menyadari tanpa peran Anda rakyat negeri ini yang pada tahun 2025 akan menjadi 275 juta hanya akan menjadi penonton panen raya di ladang mereka sendiri. Time to wake up, Bros. Fulfill your duty. [ ]
READ MORE - Pemberdayaan Bangsa Sebuah Keharusan

Ilmuwan Indonesia Harus Bergerak: Sebuah Catatan Akhir Tahun

Oleh Ubedilah Badrun*

Ada banyak pertanyaan tentang berbagai hal yang sering diajukan di setiap penghujung tahun, tak terkecuali tentang perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia. "Apa kabar IPTEK Indonesia saat ini? ". Tentu saja pertanyaan ini tidak bisa hanya dijawab dengan kalimat "kabarnya baik-baik saja" dengan mimik wajah yang tenang dan tanpa merasa punya tanggung jawab moral. Apalagi jika yang menjawabnya adalah pengambil kebijakan IPTEK atau bahkan jika yang menjawabnya para kaum terpelajar yang disebut ilmuwan Indonesia.

Perkembangan IPTEK Indonesia memang masih memprihatinkan persis seprihatin gaya menjawab pertanyaan di atas. Realitas yang memprihatinkan itu bukan dilihat dari prestasi beberapa bidang IPTEK yang telah dicapai seperti temuan aplikasi teknologi DNA, temuan bibit padi unggul, temuan vector medan laju percepatan gerakan lempeng tektonik, rancang bangun pesawat remotely piloted vehicle, memperoleh penghargaan internasional Fellowship L'Oreal-Unesco for Woman in Science, mendapat medali emas pada International Exhibition of Invention New Technique and Product, memperoleh The First Step to Nobel Prize di bidang fisika tingkat SMA, hingga temuan nutrisi baru yang disebut Nutrisi Saputra, yang memang semua itu perlu disyukuri, tetapi keprihatinan itu muncul justru ketika pergerakan dampak perkembangan IPTEK itu memang tidak segaris lurus dengan penciptaan kesejahteraan masyarakat dalam kerangka kebijakan IPTEK secara nasional. Di sinilah titik persoalannya. Kerangka IPTEK dalam bingkai kesejahteraan masyarakat? Sebuah orientasi yang terdistorsi karena lemahnya penggerak arah kebijakan IPTEK.

Lalu apa yang sesungguhnya bisa menjadi penggerak? Bukankah sudah ada visi IPTEK tahun 2025? Ya, kita sudah punya visi IPTEK 2025 yang sangat menarik dan nampak begitu ideal sesuai dengan kehendak kita yang mencita-citakan kehidupan masyarakat yang sejahtera. "Iptek sebagai kekuatan utama peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan dan peradaban bangsa" begitulah bunyi visi IPTEK kita yang dicanangkan pemerintah hasil pemilu 2004 lalu. Namun menurut pengamatan penulis visi itu sampai saat ini belum menjadi ruh bagi bergeraknya IPTEK di Indonesia, bahkan masih menjadi barang asing yang bahkan tidak sedikit yang belum mengetahui visi tersebut. Walhasil bagaiman bisa menjadi ruh bergeraknya IPTEK wong mengetahui saja tidak?

Selain itu, jika kita mau belajar dari Korea Selatan, India, Taiwan, China, Singapura, maupun Malaysia, yang mereka telah lebih awal mencanangkan visi IPTEK nya dan diikuti langsung dengan laju pergerakan ekonomi dan laju kesejahteraan masyarakatnya, maka kita bisa menemukan bahwa visi IPTEK itu akan berjalan jika pengambil kebijakan memiliki keberanian untuk mengalokasikan anggaran yang besar bagi riset IPTEK. Dis isi yang lain pada saat yang sama dunia swasta mereka juga turut memberi kontribusi anggaran besar bagi riset IPTEK. Keberanian kedua aktor penting ini (pemerintah & swasta) pada akhirnya akan memberi gairah baru bagi tumbuhnya inovasi-inovasi baru dan terbentuknya masyarakat berbasis IPTEK. Realitasnya di Indonesia sampai saat ini kedua aktor tersebut masih enggan dengan alasan-alasan yang sesungguhnya klasik, problemnya sebetulnya karena tidak punya willing yang diikat oleh spirit pentingnya mencapai visi IPTEK Indonesia.

Pada sisi yang lain, persoalan masa depan IPTEK juga menghantui Indonesia, seperti yang disinyalir Marsudi Budi Utomo yang mengkhawatirkan Indonesia yang bingung memutuskan model IPTEK mana yang sesuai dengan kondisi Indonesia (beritaiptek, 2006). Berkiblat ke Barat yang sarat idiologi liberalis dan materialis atau berkiblat ke Timur (Iran, Jepang, China)? Atau memilih kiblat sendiri yang sesuai dengan kultur dan sosio-psikologis-ideologis bangsa yang agamis?

Saat ini sebagaimana telah dicatat oleh Menristek Kusmayanto Kadiman (http://winaryo.wordpress.com/tag/kebijakan-iptek), sebetulnya berkembang trans-disiplineritas yang menjembatani sains, ekonomi, dan politik. Trans-disiplineritas ini menjadi kunci dalam memobilisasi kapital intelektual masyarakat. Hal ini disepakati dalam sebuah konferensi internasional di Switzerland, 2000, yang dihadiri ratusan universitas, puluhan perusahaan dan perwakilan pemerintahan. Bukan saja ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu fisis yang dipertemukan dalam agora(alun-alun iptek yang baru), tetapi juga bidang-bidang humanitas (seperti sejarah, literatur, dan filsafat). Di sinilah perlunya berdialog dan berbagi peran dalam simfoni orkestra IPTEK Indonesia, yang menghadirkan riset dan iptek bagi kesejahteraan, martabat, dan peradaban masyarakat hari ini dan generasi-generasi masa depan sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, termasuk nilai-nilai yang berbasis agama.

Arah dan medan persoalan kemajuan IPTEK Indonesia sebagaimana diurai diatas saya meyakini sesungguhnya sudah terbaca oleh komunitas ilmuwan Indonesia, namun kemudian hasil bacaan itu cukup disimpan saja dalam laci-laci laboratorium dan kemudian ikut arus rutinitas riset yang tak terdeteksi kemajuanya. Mandeg! Atau bergerak tetapi persis seperti bergeraknya militer dengan bunyi sepatu lars yang keras tetapi dalam formasi jalan di tempat grak!!

Ya, ketika persoalan stagnan-nya IPTEK Indonesia sudah jelas-jelas sebabnya karena rendahnya anggaran riset IPTEK dan lemahnya kepedulian swasta pada IPTEK sehingga berdampak pada lambatnya pembentukan masyarakat berbasis IPTEK, lalu para ilmuwannya diam dan duduk-duduk manja di kursi laboratorium atau bahkan lebih mengerikan lagi ketika para ilmuwannya justru sibuk dengan urusan kepentingan individualnya semata (scientist yang pragmatis) maka harapan-harapan kemajuan IPTEK Indonesia masa depan sebagaimana yang terdapat dalam Visi IPTEK 2025 hanyalah sebuah ilusi. Tetapi jika para ilmuwan Indonesia mau menyaksikan betapa indahnya kemajuan IPTEK yang dibarengi kesejahteraan rakyat maka sudah saatnya Ilmuwan Indonesia harus bergerak ! Loh kok bergerak? Bukankah selama ini sudah sibuk bergerak di laboratorium? Sudah sibuk melakukan penelitian-pneleitian? Ya, itulah apologi yang sering penulis dengar, para ilmuwan nampaknya tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya hanyalah menjalankan kebijakan minimal. Ia menjadi subordinat dari kebijakan minimal itu dan terjebak dalam rutinitas. Jika guru-guru pernah bergerak menuntut naiknya anggaran pendidikan, jika para buruh bergerak menuntut hak kesejahteraaan naiknya upah minimum regional, penulis tidak pernah mendengar Ilmuwan Indonesia bergerak menuntut naiknya anggaran riset ilmu pengetahuan dan teknologi. Wahai para ilmuwan bergeraklah! [ ]


*Ubedilah Badrun, divisi kajian Institute for Science and Technology Studies (ISTECS) chapter Japan
READ MORE - Ilmuwan Indonesia Harus Bergerak: Sebuah Catatan Akhir Tahun
Related Posts with Thumbnails

Recent Post

Orang yang kritis akan merespon apa yang telah dibacanya..sudahkah anda merespon artikel di miti...?

Arsip Artikel

Update Artikel MITI via Email Gratis

Untuk update Artikel cerdas, cukup masukkan email anda disini:

Delivered by FeedBurner

 
free counters